Kmaren..aku ngobrol2 santai ma tmen (sama2 ce 24 thn n single) ;D
akhirnya nyinggung2 topik menikah dehhhh..hehehe…
jd waktu iseng2 searching pake keyword “Dimana jodohku”,
nemu artikel bagus nie..
Jd inget br nanyain “knapa blum married?” ma tmenku di KalSel
maap looo mass..BT kali ya ma pertanyannya??
maap maap..cm pengen tau aja…
And…ini artikel yg kubaca kmaren…smoga bermanfaat…
Jodoh dan Kedewasaan Kita
oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para
Muslimah. Kemana pun mereka melangkah,
pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti
membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda
menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku
jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau
jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?
Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu
bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan
rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala
sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada
mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian
masalah’, namun kemudian justru menjadi inti
permasalahan itu sendiri.
Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi”
calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan
luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang
keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,
“Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Memang, ada
juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang
penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya,
jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai
menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar
senyum pun mahal.
Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih
cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat
superior (serba unggul). Memperhitungkan kriteria calon
memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah
menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali
menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama
ini.
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung
pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu,
menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus
menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka
hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan
untuk menjemput kehidupan rumah tangga.
Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,
bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang
India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa
kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku
dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang
kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap
menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri
untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan
individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih
berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai
penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa
yang dia impikan?
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi
muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka
sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan
yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk
meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus
ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan
itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari
siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh,
jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah
membebani seseorang melainkan sekadar sesuai
kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286). Di balik
fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti
kasih sayang Allah SWT.
Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu
akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita
kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan
lapang dada.
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun
bertanyalah, sudah dewasakah aku
ps: ternyata klo belum dewasa,kita blum boleh menikah yaaa…. ;p
tenang sahaja. saya juga cowok 25 tahun dan single
Komentar oleh joesatch yang legendaris — Maret 26, 2008 @ 8:12 pm
impetuosity says : I absolutely agree with this !
Komentar oleh impetuosity — Mei 28, 2008 @ 1:22 am
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Waxworks
.
Komentar oleh Waxworks — Juni 18, 2008 @ 11:45 pm
jodoh… kadang pusing mikirin, tapi saat kita sudah mencapai titik ikhlas dalam menunggu biasanya jodoh akan datang sendirinya… n_n
Komentar oleh sheshel — Oktober 17, 2008 @ 8:01 pm
Samlekum, ni Ali, 25 thn, stlh q bc2 mang masuk jg yach artikelnya..lau ada cew mau silaturahmi silahkan email Ali di yusufaliali2@gmail.com
Selanjutnya terserah anda..
Komentar oleh Ali — Mei 2, 2009 @ 2:10 pm
emang jodoh itu bikin streess…
tp low udah waktunya qt harus
bisa iklas nunggu jodoh itu datang dengan sendirinya..
Komentar oleh Neiiaa — September 4, 2009 @ 9:23 am